BAHAN KIMIA RUMAH TANGGA : PEMBERSIH, PEMUTIH, PEWANGI, INSEKTISIDA

BAHAN KIMIA RUMAH TANGGA 


Bahan kimia rumah tangga – Bahan kimia adalah semua bahan yang sehari – hari kita pegang, kita lihat, dan kita cium baunya. Bahkan, tubuh kita sendiri pun terdiri dari bahan kimia. Demikian juga dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, termasuk buku yang sering kita baca maupun udara yang kita hirup. Bahan kimia ada di mana – mana. Satu – satunya tempat yang tidak dijumpai bahan kimia hanyalah di tempat hampa (vakum).
Sebagian besar bahan kimia terjadi secara alamiah. Meskipun begitu, ada juga yang diproduksi oleh makhluk hidup, baik hewan, tumbuhan ataupun manusia. Batuan – batuan, pasir, dan besi; katun dan wol; gula dan garam, merupakan contoh – contoh bahan kimia yang tela digunakan manusia sejak dahulu kala untuk berbagai keperluan, misalnya untuk membuat tempat tinggal/ bernaung, bahan pakaian dan makanan.
Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan ilmu pengetahuan, kini telah banyak ditemukan bahan kimia alami yang dapat diproses menjadi bahan yang lebih berguna bagi kehidupan manusia. Sekarang, sejumlah bahan kimia sintesis digunakan dalam berbagai bidang, termasuk untuk keperluan rumah tangga. Bahan kimia rumah tangga tersebut dibuat dengan maksud untuk memudahkan kegiatan kita sehari – hari,  antara lain  pembersih, pemutih, pewangi, dan insektisida. Sungguh sulit dibayangkan bagaimana hidup ini tanpa bahan kimia tersebut.
Namun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa disamping berbagai keuntungan yang diperoleh dari bahan kimia, juga telah terbukti banyak produk/ bahan kimia yang menimbulkan kerugian. Limbah kimia atau pun senjata kimia dapat membahayakan kehidupan manusia maupun binatang. Oleh karena itu, penelitian untuk menanggulangi berbagai masalah pencemaran lingkungan perlu terus dilakukan agar dampak – dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan. Berikut beberapa bahan kimia rumah tangga yang sering digunakan.

A. PEMBERSIH

Apa yang sobat rasakan setelah selesai melakukan kegiatan olahraga, misalnya sepak bola, voli atau lari? Selain capek, tentu badan kita akan terasa ‘lengket’. Mengapa? Kotoran dan debu biasanya menempel di kulit, pakaian, rambut dan permukaan lain yang menyatu dengan minyak dan lemak. Kotoran yangg menyatu dengan minyak atau lemak tidak dapat dibersikan anya dengan menggunakan air, sebab air tidak dapat melaarutkan minyak dan lemak. Untuk itulah diperlukan peran sabun dan detergen sebagai bahan pembersih (bahan kimia rumah tangga) yang mampu mengangkat kotoran yang berminyak atau berlemak.
1. Sabun
Sabun telah lama dikenal sejak kira – kira 5000 tahun yang lalu. Uniknya, proses kimia pembuatan sabun juga tidak berubah dari dahulu hingga kini. Sabun dapat dibuat dari bahan alam minyak nabati, atau lemak hewan dan natrium hidroksida atau kalium hidroksida dengan cara dipanasi (melalui reaksi saponifikasi sehingga terbentuk padatan lunak. Bahan padat – lunak ini dikenal mampu menambah daya cuci air tehadap lemak atau minyak yang menempel pada badan atau pakaian kita.
Ilustrasi : Sabun Mandi
Sabun yang mengandung natrium hidroksida disebut sabun keras, sedangkan sabun yang mengandung kalium hidroksida disebut sabun lunak. Sabun lunak sering kali diberi pewarna yang menarik dan pewangi (parfum) serta bahan antiseptik (pembunuh kuman) seperti pada sabun mandi.
Molekul (bagian yang sangat kecil) sabun berupa rantai yang mempunyai dua ujung. Ujung yang satu larut dalam air, sedangkan ujung yang lain larut dalam minyak dan lemak. Hal itulah yang menyebabkan sabun mempunyai daya pembersih. Kotoran berlemak atau berminyak dapat terlepas bersama air dengan adanya bahan pembersih tersebut.
Namun, daya cuci sabun akan berkurang jika air yang digunakan mengandung kapur (ion kalsium atau ion magnesium). Air yang mengandung ion kalsium atau ion magnesium disebut air sadah, contonya air laut dan air dari pegunungan air kapur.
Jika dibandingkan dengan detergen, sabun lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Dengan kata lain, sabun lebih ramah lingkungan dibandingkan dengnan detergen.
2. Detergen
Pada masa Perang Dunia Kedua, terjadi kekurangan persediaan lemak hewan dan minyak nabati sebagai bahan baku sabun. Ketika itu, lemak hewan dan minyak nabati telah banyak digunakan sebagai bahan makanan. Hal tersebut sangat mempengaruhi industri pembuatan sabun. Keadaan ini memaksa ahli kimia untuk mencari bahan pengganti (alternatif) untuk menghasilkan bahan pencuci. Hasilnya, pada tahun 1916 seorang ahli kimia Jerman bernama Fritz Gunther memperkenalkan detergen untuk pertama kali.
Ilustarsi : Detergen
Detergen tidak sama dengan sabun. Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan detergen berbeda dengan sabun, yaitu alkil benzena sulfonat (ABS). bahan itu diperoleh dari hasil pengolahan minyak bumi. Daya cuci detergen jauh lebih kuat dibandingkan sabun dan dapat bekerja pada air sadah. Namun sayang, detergen sulit diuraikan oleh mikroorganisme, sehingga dapat mencemari lingkungan. Busa detergen yang tidak terurai dapat menumpuk di permukaan air sungai atau danau, sehingga menghalangi difusi oksigen ke dalam air. Akibatnya, binatang air mati karena kekurangan oksigen.
Untuk mengatasi masalah lingkungan yang diakibatkan limbah detergen, saat ini bahan dasar yang digunakan diganti dengan linier alkil sulfonat (LAS). LAS mudah diuraikan oleh mikroorganisme dan dikenal sebagai bahan yang ramah lingkungan.
Dewasa ini, detergen diproduksi untuk beragam tujuan penggunaan. Shampo merupakan detergen khusus yang diciptakan sebagai pencuci rambut. Shampo dibuat dengan menggunakan bahan dasar natrium lauril sulfat atau natrium dodesil sulfat. Pasta gigi juga dibuat dengan menggunakan bahan dasar yang sama, dengan bahan tambahan utama bahan abrasif; sedangkan detergen yang digunakan khusus untuk mencuci piring dan peralatan dapur mengandung natrium metasilikat, natrium tripolifosfat, dan sedikit klorin.

B. PEMUTIH


Pemutih pakaian dibuat untuk mengatasi kotoran yang sulit dibersihkan. Bahan pemutih yang sehari – hari  digunakan di rumah tangga (bahan kimia rumah tangga) biasanya mengandung 5,25% natrium hipoklorit atau natrium perborat. Bahan ini juga dapat berfungsi sebagai pembunuh kuman (desinfektan). Penggunaan bahan pemutih yang berlebihan, dapat memudarkan warna pakaian.
Ilustrasi : Pakaian yang di cuci dgn pemutih
Untuk membersihkan toilet, keramik lantai, dan bak kamar mandi, digunakan pembersih yang menganung asam sulfat, atau asam nitrat.
Mencampur antar bahan kimia (bahan kimia rumah tangga) dapat sangat berbahaya. Apabila bahan pemutih yang mengandung natrium hipoklorit dicampur dengan bahan pembersih yang mengandung asam klorida akan dihasilkan gas klorin. Gas ini dapaat merusak tenggorokan dan sistem pernafasan, bakan dapat mengakibatkan kematian apabila terhirup dalam jumllah yang banyak.

C.PEWANGI


Pada awalnya, semua bahan pewangi diambil secara alami dari tanaman, misalnya: daun pandan, cengkeh, melati, mawar dan lain – lain. Akan tetapi saat ini, pewangi sintesis sudah dapat dibuat di laboratorium, walaupun tidak sebagus aslinya.
Ilustrasi : Pewangi Pakaian
Pewangi digunakan untuk memberi aroma yang sedap. Ruangan yang berbau dapat disemprot dengan pewangi ruangan dengan aroma yangd isukai. Pewangi seringkali ditambahkan pada bahan – bahan lain agar lebih menarik, misalnya pada sabun dan detergen.
Pewangi yang dipakai langsung pada tubuh atau pakaian disebut parfum. Biasanya, parfum mengandung 10% – 25% zat pewangi yang dilarutkan dalam alkohol. Pemakaian parfum bersama – sama dengan bahan kosmetik yang lain dapat menyebabkan alergi.

D. PEWANGI


Sudah sejak dahulu, serangga (insekta) menjadi pengganggu kenyamanan hidup manusia. Serangga dalam jumlah yang berlebihan menjadi hama. Selain mengganggu, serangga di sekitar rumah juga dapat menjadi media penyebaran penyakit tertentu. Oleh karena itu, manusia berusaha memberantas serangga pengganggu tersebut.
Ilustrasi : Pewangi Ruangan
Bahan kimia peembunuh serangga disebut insektisida. Pada umumnya insektisida disemprotkan ke udara untuk membunuh serangga yang ada di rumah, seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan lain – lain.
Berdasarkan cara kerjanya, insektisida dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Kelompok racun pencernaan
Membunuh serangga apabila ikut termakan.
Contoh: DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana), BHC (Benzena Heksa Klorida), Metoksiklor, dan lain – lain.
2. Kelompok racun luar tubuh
Membunuh serangga apabila mengenai badan.
Contoh: DDT, BHC, Dieldrin, Aldrin dan lain – lain.
3. Kelompok racun pernafasan
Membunuh serangga apabila terhirup.
Contoh: BC, asam sianida, karbon disulfida dan lain – lain.
Penyemprotan insektisida ke udara merupakan salah satu penyebab pencemaran udara. Pemakaian isnektisida yang berlebihan dan dalam waktu yang cukup lama dapat berdampak negatif terhadap manusia. Hampir semua zat kimia yang terdapat dalam obat pembasmi hama, selain beracun juga bersifat karsinogenik (memicu timbulnya kanker).
Demikian tulisan mengenai bahan kimia rumah tangga. Buat kamu kamu yang ingin mendapatkan pelajaran tambahan dengan mengikuti les privat guru ke rumah hub. 0821-2237-8550 Up. Smart Sukses. Terima kasih.

Sumber:
Johnson .(2004). Sains Kimia SMP untuk Kelas VII. Erlangga: Jakarta


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BAHAN KIMIA RUMAH TANGGA : PEMBERSIH, PEMUTIH, PEWANGI, INSEKTISIDA"

Posting Komentar