Teks Moral dan Fabel

TEKS CERITA MORAL/FABEL



1. Pengantar Materi
Mungkin selama ini kita sering mendengar kata moral. Secara defenisi moral merupakan suatu ajaran baik atau buruknya suatu budi pekerti ataupun akhlak yang dapat diterima oleh umum. Baik atau buruknya moral kita dapat menentukan sikap lingkungan terhadap kita. Sebab, pada prinsipnya setiap manusia membutuhkan lingkungan yang memiliki moral yang baik dan berkualitas. Untuk itu sudah selayaknya apabila moral kita, kita arahkan ke hal-hal yang positif.
Pada pelajaran kali ini, kita akan mendalami tentang pembentukan moral melalui cerita moral atau fabel. Untuk itu, simak dan pahamilah pelajaran yang akan diberikan oleh gurumu nanti!

2. Dasar-Dasar Cerita
Ada banyak jenis cerita yang dapat kita baca. Tentu saja cerita-cerita tersebut harus disesuaikan dengan usia si pembaca. Dengan penyesuaian antara cerita dan usia si pembaca, maka seseorang akan lebih mempermudahkan diri untuk dapat memahami dan mengambil pesan yang tersirat di dalamnya. Berdasarkan sifatnya, cerita dibedakan menjadi dua, yaitu: cerita fiksi (tidak nyata) dan cerita nonfiksi (nyata). 
Cerita diibaratkan sebagai bangunan. Sebab, suatu bangunan tidak akan berdiri apabila tidak dilengkapi dengan unsur pembangun. Unsur pembangun yang dimaksudkan ada dua, yaitu: unsur yang membangun dari dalam (intrinsik), seperti: tema, amanat, latar, gaya bahasa, alur, sudut pandang, tokoh dan penokohan. Serta unsur yang membangun dari luar (ekstrinsik), seperti: lingkungan penulis, tingkat pendidikan, dan lain sebagainya.

3. Jenis-Jenis Cerita 
Banyak jenis cerita berdasarkan isinya, diantaranya:
a. Fabel adalah cerita tentang hewan.
b. Legenda adalah cerita tentang terjadinya suatu tempat.
c. Mite atau mitos adalah cerita tentang kegaiban atau kepercayaan.
d. Sage adalah cerita tentang sejarah atau kepahlawanan.
e. Tambo adalah cerita tentang silsilah raja.
f. Cerita pelipur lara adalah cerita tentang hiburan.
g. Cerita dikdaktik adalah cerita tentang pendidikan.
h. Cerita jenaka adalah cerita tentang hal yang lucu.
i. Cerita parabel adalah cerita tentang perumpamaan yang mengandung nilai pendidikan.
h. Cerita rakyat adalah cerita yang tumbuh berkembang disuatu wilayah.
i. Hikayat adalah cerita tentang kehidupan raja-raja masa lampau yang bercorak Islam.

4. Ciri-Ciri Bahasa Teks Cerita Moral
Bahasa pada teks cerita moral memiliki kekhasan tersendiri, adapun cirinya adalah sebagai berikut.
a. Memuat kata-kata sifat untuk mendeskripsikan pelaku, penampilan fisik, atau 
kepribadiannya.
b. Memuat kata-kata keterangan untuk menggambarkan latar.
c. Memuat kata kerja untuk menunjukan peristiwa-peristiwa yang dialami pelaku.
d. Memuat sudut pandang pengarang .
Contoh cerita moral:

Bayangan
Oleh: Alvian Kurniawan

Rotasi hari menjilma pada kokokan ayam, aku tahu kalau tak lama dari itu mungkin akan ada perapian di sudut timurku. Aku terbangun dan segera bersiap menulis dairy hariku dengan tinta lakuku. Segera ku tinggalkan selimut malasku dan kusandarkan pada rangka ranjang mimpiku. 
"Bu, hari ini aku ingin pergi ke taman", tekasku pada ibu. seraya membalikan badan, 
ibuku bertanya, "Seorang dirikah?"; 
"Yah, seorang diri. Untuk apa aku harus ajak orang-orang lain, jika mereka hanya bisa menggangu saja". Aku ingin bercenta dengan alam.Karena alamlah yang mau menggandengku dalam setiap hariku.Aku tak percaya kamu, bahkan ia, mereka ataukah siapa itu. Aku mulai meninggalkan ibu dan segeralah mungkin ku berlari pada alam. 
Angka 7 ditunjuk oleh jarum kecil jam perakku, aku segera berlari dan ku rasakan sesegaran pagi dibawah peraduan angin segar.
"Ohaaaaaaaaaaaaammmmmm..." kuhembuskan nafas dengan sertamerta.Lekukkan pagi seakan menyulik perhatianku. Aku terus berdiri bahkan mungkin tak kukenakkan rasa bosan yang ku sulam pada bebaitan saat itu. Bagiku alam adalah sahabatku, bukan kamu, ia, mereka ataukah siapa itu. 
Belum lepas tetalian akrab dengan alam saat itu, tiba-tiba ku dengar suara lirih dibawah tongkat penyanggaku.
"Selamat pagi teman !!!" Perhatianku dicuri benda itu. Ia adalah hitam dan bahkan ia menjilma mengikuti tubuhku. Dengan rasa penuh debar ku beranikan bertanya kepadanya,
"Siapa kamu ?" Tak ku temukan bahasa tubuhnya menjawab.Namun yang ku dengar ia berkata lirih kepadaku, 
"Akutemanmu."
"Temanku?" dengan penuh pesona tanya ku coba balikkan pernyataannya padaku. 
"Aku menyayangimu, bahkan aku selalu menemanimu," tekasnya ulang, 
"Arrghh, kamu ini siapa?aku tidak mengenalmu! Aku jua tak pernah punya teman. Aku hanyalah si cacat kaki yang telah ditakdirkan pincang dalam bergaul," ku menjawab seraya mencari keanehan tubuhnya.Sekali lagi ku tak melihat bentuk rupanya, 
"Baiklah, namaku bayangan. Aku diciptakan untuk temanimu.Aku selalu ada didekatmu.Jika kau bergerak, maka aku bergerak.Jika kau merangkak, maka aku merangkak. Yah sekali lagi ini adalah aku. Aku adalah bayangan." 
Dahiku mengkerut mendengar jawaban itu, Namun aku juga tak mudah percaya. yang ku tahu cacatku ini hanyalah bahan penghinaan saja bukan bahan untuk Dapat diakrapi. 
"Kau binggung wahai badanku?", tanyanya padaku.
"Yah, aku binggung!"
"Pasti kau bertanya mengapa aku justru ingin berteman dengan cacatmu itu?" 
Aku tercengang tiada berbalas.Ku coba mencari tahu darimanakah ia dapat menjawab dengan benar itu. 
"Kau tak perlu bertanya darimana aku tahu apa yang ada dipikiranmu!karena aku adalah temanmu.Dimana-mana aku mengikutimu. Serta seluruh keluh kesahmu itu aku telah mengetahuinya." 
"Tapi.....", segera ia memotong kalimatku, 
"Aku juga cacat, aku tak punya bibir, aku tak punya mata dan aku tak punya mulut, lihatlah aku juga cacat. aku juga bertongkat. Berarti tak ada juga yang mau berteman denganku, demikian kau juga tak ada yang mau berteman denganmu. Kita sama, bahkan aku lebih cacat daripada kamu. Sekali lagi buka ketidakmungkinan itu! Ini mungkin, sahabatku." lirihnya meyakinkan. 
Aku tergugah, pemikiran yang ku pikirkan selama ini hanyalah ketakutanku semata. Aku tak habis pikir, ternyata masih ada orang yang hendak berteman denganku. Aku mulai bercakap dengannya saat ini. 
Tak terasa, peraduan sore telah menjemput. Ku merasa asik berceloteh dengan teman baruku. Aku tidak kesepian saat itu.Namun, kali ini aku semakin bingung. lantaran sahabat baruku semakin pudar bentuk tubuhnya. 
"Ada apa denganmu sahabatku?" tanyaku pelan. 
"Aku harus pergi.",
"Pergi?"
"Ya..aku harus pergi."
"Lalu kau tega meninggalkanku?"
"Ya aku tega. Aku akan mati beberapa jam, dan aku akan bermimpi dibalik gelapnya cahaya pada saat itu.Namun, aku tetap ada denganmu.Hanya saja aku akan mengabstrak.". 
"Aku tak mengerti maksudmu apa?"
"Kau akan tahu nanti."
"Nanti?", 
"Ya nanti.", 
"Kapan?", 
"Sampai kau benar-benar tahu." 
"Aku tak mengerti!"
"Ya, kau tak akan mengerti." 
"Maksudmu?", 
"Kau tetap takkan mengerti, jadi simpanlah pertanyaan itu. Kini aku harus pergi. Aku hanya seusia matahari. Kau masih punya sahabat lain diluar. Mungkin ibumu, ayahmu atau pembantumu. Esok aku akan kembali, aku hanya ingin tidur sementara saja.Aku ingin bermimpi,dan tak ada kamu bersamaku." 
"Tapi......" 
Belum sempat ia menjawab pertanyaanku dan kucermati ia semakin mengecil, sangat kecil dan hilang tiada berbekas.


Contoh cerita fabel:

Kisah Sura dan Baya

Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu Sura dengan buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, sama-sama cerdik, sama-sama ganas dan sama-sama rakus. Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Akhirnya mereka mengadakan kesepakatan. Kesepakatan itu adalah dengan membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Sura berkuasa sepenuhnya di dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air, sedangkan Buaya barkuasa di daratan dan mangsanya harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air adalah tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut. Kesepakat itu disetujui oleh keduanya.
Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan, maka tidak ada lagi perkelahian antara Sura dan Buaya. Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing. Tetapi pada suatu hari, ikan hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukandengan sembunyi-sembunyi agar buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memang tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari, buaya memergoki perbuatan ikan hiu Sura ini.Tentu saja Buaya sangat marah melihat hiu Sura melanggar janjinya. Ikan hiu Sura yang merasa tak bersalah tenang-tenang saja. 
"Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair? Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini kan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku," Kata Ikan Hiu Sura. 
"Apa? Sungai itu kan tempatnya di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah darerah kekuasaanku!" Buaya ngotot. 
"Tidak bisa. Aku kan tidak pernah bilang kalau di air itu hanya air laut, tetapi juga air sungai" jawab hiu Sura.
"Kau sengaja mencari gara-gara, Sura?" 
"Tidak! Kukira alasanku cukup kuat dan aku memang dipihak yang benar!" kata Sura. 
"Kau sengaja mengakaliku. Aku tidak sebodoh yang kau kira!" kata Buaya mulai marah. 
"Aku tidak perduli kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!" Sura tak mau kalah. 
Karena tidak ada yang mau mengalah, maka pertempuran sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi.Pertarungan kali ini semakin seru dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air disekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari luka-luka kedua binatang tersebut. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sama sekali. Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membengkok kekiri. Sementara ikan Sura juga tergigit ekornya hingga hampir putus, lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan daerahnya.
Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar "ikan sura dan buaya".


Contoh Cerita Pendek:

Cermin Sindiran

Dan matahari tak lagi bersahabat pada saat itu. Ia memancar dengan semakin menerik dan seakan menipiskan sunblock yang sengaja kupakai untuk gantikan jaket tebalku yang semakin hari semakin malas kukenakan oleh gerahnya seluruh badanku. Berulangkali kutengok jam stainllessku dan kurasai begitu cemasnya aku apabila ia terlalu cepat untuk bergerak meninggalkan detik dan menit yang sengaja kukejar tuk capai kantor tempatku mengais rezeki. Hari itu memang bukan jadwalku mengajar, namun pagi tadi staff pusat menelponku untuk memback up tiga kelas di Budiwijaya cabang Lemabang. Dengan segera, kupacu angka 45 dari vario yang setia menjadi sopirku tuk jalani rutinitas siang itu. 
Sejenak fikirku mengarah kepada keluargaku, kurasai perasaan rindu kepada ibuku. Karena hari ini aku tak sempat pulang ke rumah tuk santapi menu sup kubis dan ayam goreng yang telah sengaja kupesan dari malam tadi. Tapi apa boleh buat. Ternyata kuliahku sampai siang. Dan aku tak mungkin bisa kejar waktu 30 menit yang tersisa untuk kembali ke rumah dan lantas kembali pergi. 
“Argh, mengapa aku jadi melamun?” ucapku mengagetkan diriku sendiri. Aku lekas berkonsentrasi kembali dan terus bergegas mencapai meter per meter dari jejalanan itu.
Sepuluh menit melangkah dari pukul tigabelas siang. Varioku berhenti di depan kantor tempatku mengajar. Dengan seragam kuningku dan dasi panjang yang mengikat leherku, aku berjalan dengan tenang dan menyapa rekan kerjaku, Miss Sellayang merupakan bagian staff administrasi.
“Selamat siang, Miss,” sapaku padanya. 
Ia membalas dengan senyum. Aku segera menuju ke bagian belakang. Seperti biasa membenahi rambut yang acak-acakan dan merapikan penampilan yang sudah mulai kurang rapi karena mengendarai motor. Merasa semuanya telah rapi, aku segera duduk di meja konsultasi belajar. Sepertinya hari itu tak ada siswa yang mempunyai pekerjaan rumah. Kesempatan kosong seperti itu ku pergunakan untuk menghela nafas dan sedikit menyenderkan lelah itu di tepian kursi berwarna kuning. 
“Selamat siang, Sir, “ sapa seseorang kepadaku,
Kucoba tuk menoleh dan mencari sumber suara itu berasal. Kudapati seorang lelaki kurus, berbaju besar dan gaya rambut belah pinggir. 
Ia adalah rekan kerjaku sekaligus seniorku, namanya Yanto. Beberapa bulan yang lalu ia baru usai menyelesaikan kuliahnya di jurusan FKIP Pendidikan Matematika Unsri.
“Oh, selamat siang juga, Sir, apa kabar?” sahutku basa-basi.
“Ya beginilah sir, Alhamdulillah masih diberi kesehatan,” jawabnya lirih. 
Sejenak kami mulai membincangkan mengenai kelas khusus baru di progam progressif yang kami ajar. Yanto dan aku memang ditempatkan pada cabang mengajar yang berbeda. Aku mengajar kelas Progressif di cabang 16Ulu, sedangkan ia di cabang Lemabang. Jadi, wajar bila kami banyak cerita tentang kondisi belajar siswa di kelas khusus dua cabang itu, seperti: masalah perkembangan hasil try out dua mingguan, presensi siswa dan lain-lain. 
“Teeeeeeeeeeeeeettttt……,” Bunyi bel mengingatkan kami untuk segera masuk ke kelas masing-masing. Keakrabpan itu kami hentikan segera. Lantas bergegaslah kami meninggalkan meja konsultasi. Kala itu, aku mengajar di ruang B lantai 2 dan Yanto mengajar di ruang D lantai 3. Ku amati dari kejauhan tubuh kecilnya tetap semangat menaiki satu per satu dari anak tangga itu. 
Pikiranku mulai menyelinap tentang cerita-ceritanya beberapa waktu yang lalu ketika kami pulang kerja bersama. Kala itu, ia bercerita jikalau ia adalah seorang anak dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanya seorang pegawai tidak tetap. 
Waktu itu, Yantobanyak bercerita denganku tentang bagaimana besarnya keinginannya untuk mengangkat keluarganya kejenjang ekonomi yang lebih mapan. 
“Bermula dari sebuah mimpi, Sir. Saya berjuang dan bekerja. Dari seorang pengangkat kayu, guru ngaji sampai kuli bangunan pun saya jalani guna bekal saya meraih sarjana.” 
Kalimat itu masih terniang ditelingaku. Aku berfikir, mungkin seribu satu macam remaja di sini, hanya secuil saja remaja-remaja yang berfikiran sama dengannya. Ku ingat remaja-remaja sebayaku banyak sekali yang hanya kuliah, jalan-jalan, senang-senang dan lain sebagainya. Aku mulai mengoreksi diri dan perlahan memulai membuat pertanyaan-pertanyaan yang mengena ke pribadiku. 
Selama ini aku sering mengeluh tentang rasa lelahku yang kerap kali ku rasai. Ternyata semua aktivitasku selama ini hanya biasa saja. Ternyata benar, di atas langit masih ada langit. Kesibukanku kuliah di pagi hari, mengajar di siang hari, mengerjakan tugas kampus atau membuat soal-soal modul di malam hari serta ikut lomba-lomba yang selalu menggangu jadwal liburku setiap hampir hari minggu dan tanggal merah. Namun,ternyata sekali lagi, kesibukan itu menurutku masih jauh lebih ringan daripada kesibukannya sebagai seorang yang harus bekerja dengan fisik dan stamina yang kuat, tanpa kendaraan sepertiku, tanpa uang bantuan dari orang tua dan lain sebagainya. 
Aku mulai merasa tersindir saat itu. Lantas aku mulai menoleh pada diriku sendiri. Ternyata aku masih cukup terlalu sombong tuk lupai nikmat yang telah diberi-Nya padaku.
“Hai Sir, saatnya masuk kelas?” sapa Miss Sella kepadaku.Mendengar suara itu, aku tergugah dari lamunan singkatku.
“Astaga, akukan harus mengajar! “

5. Memahami dan Menangkap Makna Teks Cerita Moral/Fabel
Dalam cerita moral ataupun fabel tentunya memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Makna inilah yang dapat kita pergunakan sebagai pesan hidup yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada teks cerita “Bayangan” mengandung pesan bahwa kita tidak boleh merasa kecil atau kerdil apabila kita memiliki suatu kelemahan. Terkadang apabila kita kaitkan dengan kehidupan nyata, masih banyak orang-orang yang memiliki kelemahan lebih dari pada kita. Untuk itu kita harus banyak bersyukur dan memanfaatkan kekurangan kita sebagai sesuatu hal yang dapat kita olah sebagai kelebihan.
Selain itu, pada teks bacaan “Kisah Sura dan Baya” juga memiliki banyak sekali makna positif yang dapat kita tiru. Kita ketahui, pada teks tersebut dijelaskan ikan hiu sura melakukan perjanjian dengan buaya untuk berbagi lahan kekuasaan. Di sini tersimpan sebuah makna bahwa kita tidak boleh tamak dalam hidup.Kita harus memerhatikan lingkungan sekitar yang juga membutuhkan untuk hidup. Jadi, kita harus berlaku adil terhadap sesama.
Berbeda lagi dengan cerpen “Cermin Sindiran”, cerita ini mengisyaratkan bahwa hidup adalah perjuangan. Perasaan lelah terkadang muncul dalam perjuangan itu sehingga kita sering sekali mengeluh. Namun, ternyata sesulit apapun tugas kita, ternyata masih ada orang yang jau lebih sulit dari pada kita. Sehingga kita harus senantiasa untuk selalu bersyukur.

6. Membedakan Teks Cerita Moral dengan Cerpen
Pada pelajaran kelas 7, pernah dibahas masalah cerpen atau cerita pendek. Tentunya, antara cerita moral/fabel dengan cerita pendek/cerpen memiliki kesamaan dalam bentuk prosa dan bersifat fiksi serta dikembangkan dengan imajinasi (daya khayal). Namun, apabila kita analisis lebih mendetil, ternyata keduanya memiliki perbedaan, baik itu perbedaan dalam bentuk
• Struktur Isi 
Struktur isi dapat kita analisis berdasarkan judul, perkenalan, komplikasi, klimaks, penyelesaian, amanat/pesan.
• Fitur Bahasa
Fitur bahasa memiliki peranan yang penting untuk memberikan gambaran yang jelas. Oleh karena itu, fitur bahasa harus memergunakan kata sifat, kata keterangan, kata kerja yang jelas maupun tindakan-tindakan tokoh dalam merespon berbagai peristiwa yang dialami.

7. Menyusun Teks Cerita Moral
Pada subbab sebelumnya telah dibahas, bahwa untuk membentuk suatu cerita, haruslah dibangun dengan dua struktur, yaitu: struktur dari dalam (intrinsik) dan struktur dari luar (ekstrinsik). Kedua struktur tersebut haruslah ada dalam suatu cerita yang harus kita susun. Untuk dapat membantu kalian dalam membuat teks cerita moral/fabel berikut disajikan tentang penjelasan beberapa unsur intrinsik.

a. Pengembangan Tokoh Dalam Cerita
Watak tokoh bersifat universal, artinya seorang tokoh dapat memiliki watak yang sama meski dalam cerita yang berbeda. Karakter tokoh bisa jadi keras kepala, pencemburu, jujur, sabar, baik hati, penolong, pendiam dan lain-lain. Watak seperti ini tidak hanya dalam cerita-cerita yang ada di Indonesia, tapi juga cerita dari negara lain. Metode yang dipergunakan untuk mengembangkan tokoh adalah
• Metode Analitik
Metode ini melihat secara langsung dengan pemaparan watak tokoh dengan menyebutkan langsung sifat-sifatnya. Seperti: pintar, dungu, egois dan lain-lain.
• Metode Dramatik
Metode ini memergunakan teknik interpretasi/penafsiran pembaca,karena sifat tokoh dalam cerita diungkapkan secara tidak langsung.Seperti: cara berbicara, cara bereaksi terhadap sesuatu, reaksi dari tokoh lain, kebiasaan tokoh, bentuk tubuh dan lain-lain.

b. PengembanganTema Dalam Cerita
Tema (sense) adalah permasalahan pokok (utama) yang merupakan landasan dalam penyusunan cerita sekaligus permasalahan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya tersebut.Tema ada sebelum cerita dibuat.Tema merupakan unsur awal dalam membangun sebuah cerita.Tema dapat ditemukan setelah kita memahami seluruh isi cerita.Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam beberapa hal bersifat mengikat kehadiran dan ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu.Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas dan abstrak.

c. Pengembangan Latar Dalam Cerita
Latar atau setting merupakan waktu, suasana dan tempat terjadinya peristiwa. Dengan adanya latar, pembaca dapat menggambarkan keterangan yang berkenaan dengan apa, bagaimana dan kapan peristiwa dalam cerita itu terjadi. 

d. Pengembangan Alur dalam Novel Remaja
Alur cerita adalah suatu jalannya suatu cerita, beberapa sumber juga mengatakan bahwa alur atau plot adalah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat. Alur cerita pada umunya memiliki tahapan-tahapan yang berbeda, yakni:

• Alur Lurus/ Maju
Alur ini bergerak dari:
- Perkenalan
- Konfliks 
- Perumitan 
- Klimaks 
- Antiklimaks
- penyelesaian

Klimaks
Perumitan
Antiklimaks 
Penyelesaian
Konfliks

Perkenalan
• Alur Sorot Balik/ Mundur (flashback)
Alur ini bergerak dari
- klimaks 
- perkenalan 
- konflik 
- perumitan 
- antiklimaks 
- penyelesaian

Klimaks
Perumitan

Konfliks
Antiklimaks 
Penyelesaian

Perkenalan
• Alur Campuran/ Gabungan (Maju-Mundur)
Alur ini bergerak dari
- Penyelesaian 
- Klimaks 
- Perkenalan 
- Konfliks
- Perumitan 
- Antiklimaks.

Klimaks

Perumitan antiklimaks

Konfliks

Penyelesaian
Perkenalan

8. Mengklasifikasi, Menelaah, dan Merevisi Teks Cerita Moral
Klasifikasi adalah suatu kegiatan mengelompokan sesuatu hal dalam bagian-bagian tertentu. Klasifikasi bertujuan untuk mempermudahkan kita untuk mengetahui jenis-jenis cerita yang kita baca.
Pada bagian ini, kita diminta untuk mengklasifikasi jenis cerita moral/fabel sesuai dengan sifatnya. Pengklasifikasian itu dapat berupa: pengklasifikasian cerita yang bersifat fantasi atau cerita yang bersifat fiksi ilmiah.
Menelaah dapat diartikan sebagai kegiatan yang berusaha memahami teks bacaan tersebut untuk mencari kelebihan yang bisa ditonjolkan dalam cerita tersebut dan kekurangan yang dapat untuk diperbaiki.
Setelah kita menemukan kelebihan dan kelemahan tersebut, kita dapat melakukan kegiatan perevisian yang berarti kita diminta untuk memperbaiki aspek-aspek yang kurang baik menjadi lebih baik lagi.

Demikian pembahasan dari admin tentang Teks Moral dan Fabel, semoga bermanfaat bagi kalian, untuk kalian yang ingin mencari les privat guru datang ke rumah bisa hub. 0821-2237-8550 Up. Smart sukses.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teks Moral dan Fabel "

Posting Komentar

DAFTAR SEGERA !

DAFTAR SEGERA !